Senin, 07 Januari 2019

.: ONTOLOGI MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA


ONTOLOGI MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

Aizza Zakkiyatul Fathin1, Prof. Dr. Marsigit, M.A2
1, 2 Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta
A.    Pendahuluan
Filsafat dan matematika merupakan dua cabang ilmu yang berjalan bersama-sama dan memiliki hubungan satu sama lain. Alasannya, filsafat merupakan pangkal untuk mempelajari ilmu sedangan matematika sering disebut sebagai the mother of science. Sehingga keduanya dapat dikatakan sebagai sumber dari segala ilmu. Hal ini sejalan dengan pendapat The Lieng Gie (1999) yang menyatakan bahwa filsafat dan matematika merupakan dua bidang pengetahuan rasional yang memiliki hubungan sangat erat dan tidak diragukan lagi (saling berkaitan). Karena pada dasarnya  filsafat dan geometri (salah satu cabang matematika ) lahir pada masa yang sama, dari bapak yang sama dan dari pikiran orang yang sama yaitu Thales. (Haryono, 2015). Oleh karena itu tidak dapat dipungkiri bahwa antara filsafat dan matematika keduanya saling berhubungan erat.
Bidang pengetahuan yang disebut filsafat matematika merupakan hasil pemikiran filsafati yang sasarannya ialah matematika itu sendiri. Filsafat sebagai rangkaian aktivitas dari budi manusia pada dasarnya adalah pemikiran reflektif. Pemikiran relatif atau untuk singkatnya refleksi dapat dicirikan sebagai jenis pemikiran yang terdiri atas mempertimbangkan secara cermat suatu pokok soal dalam pikiran dan memberikannya perhatian yang sungguh-sungguh dan terus menerus.
Dengan demikian filsafat matematika pada dasarnya adalah pemikiran relatif terhadap matematika. Matematika menjdai pokok soal yang dipertimbangkan secara cermat dan dengan penuh perhatian. Selain itu, filsafat juga berkaitan dengan pendidikan matematika. Menurut Marsigti (2015) filsafat merupakan refleksi, sehingga filsafat pendidikan matematika merupakan refleksi terhadap pendidikan matemtika secara keseluruthan, berkaitan dengan struktur dan kegunaanya serta menyelidiki hakekat pelaksanaan pembelajaran matematika yang berkaitan dengan tujuan dan metode.
Dalam filsafat terdapat objek kajian yang meliputi ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dimana ketiganya juga terdapat pada filsafat matematika dan pendidikan matematika. Pada makalah ini selain membahas filsafat matematika dan pendidkan matematika juga akan dibahas mengenai ontologi matematika dan pendidikan matematika.
B.    Pengertian Filsafat
Kata filsafat popular di Yunani sekitar abad kesembilan SM, dengan sebutan philopos yang dibedakan menjadi dua kata yaitu shopia berarti kebijaksanaan, hikmah, atau bisa berarti kecakapan. Sedangkan philo bisa berarti cinta. Jadi secara etimologi filsafat berarti love of wisdom yaitu cinta kebijaksanaan, hikmah atau kebenaran,
Secara terminologi filsafat diartikan sangat beragam. Menurut Aristoteles (384-332 SM) yang merupakan tokoh sentral filosof klasik yang menyatakan bahwa filsafat menyelidiki sebab dan asas segala perwujudan. Dia juga menyatakan bahwa filsafat memperhatikan seluruh pengetahuan, dan kadang-kadang disamakan dengan pengetahuan tentang wujud (ontology). Kemudian, menurut Plato (427-347 SM) menyatakan bahwa objek filsafat adalah penemuan kenyataan atau kebenaran absolut (kebenaran mutlak) lewat dialektika (metode pencapaian definisi bagi sebuah konsep dengan cara menguji ciri-ciri umum yang ditemukan)
Sedangkan menurut Immanuel Kant (1724-1804) berpendapat filsafat ialah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal segala pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal segala pengetahuan yang tercakup di dalamnya empat persoalan yang akan ditanyakan yaitu pertama, apakah yang dapat kita ketahui? Maka jawabannya termasuk dalam bidang metafisika. Kedua apakah yang seharusnya kita kerjakan? Jawabannya termasuk dalam bidang etka. Ketiga, sampai dimanakah harapan kita? jawabannya termasuk pada bidang agama. Terakhir, apakah yang dinamakan manusia itu? Jawabanya termasuk pada bidang antropologi dan sosiologi yang menyangkut interaksi manusia.
Adapun menurut Alfarabi (950 SM) seorang filosofi muslim menyatakan bahwa filsafat merupakan ilmu tentang alam yang maujud atau berwujud adanya dan bertujuan untuk menyelidiki hakikat atau substansi yang sebenarnya. sedangkan menurut Ibnu Rushd (1126-1198 M) berpendapat bahwa filsafat atau hikmah merupakan pengetahuan “otonom” yang perlu dikaji oleh manusia karena karunia akal dan mafahim (pemikirannya). Oleh karena itu, tujuan paling utama dalam berfilsafat adalah menemukan suatu kebenaran yang bisa dibuktikan secara rasional.
Dari beberapa pengertian menurut para ahli maka dapat disimpulkan bahwa filsafa adalah ilmu yang mempelajari sesuaut yang wujud (ada) dan yang mungkin ada yang bertujuan untuk menemukan kebenaran yang bisa dibuktikan secara rasional.


C.    Pengertian Matematika
Matematika berasal dari kata mathema artinya pengetahuan, mathanein artinya berpikir atau belajar (Hamzah, 2014:48). Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia matematika adalah ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan. Matematika menurut Ruseffendi (Heruman, 2013:1) adalah bahasa simbol, ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif, ilmu tentang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak didefinisikan ke unsur yang didefinisikan. Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperbolehkan sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten (Depdiknas, 2003:5).
Adapun definisi matematika menurut Soejadi (2000:11) yaitu
1.     Matematika adalah ilmu pengetahuan eksak dan terorganisasi secara sistemik.
2.     Matematika adalah pengetahuan bilangan dan kalkulasi
3.     Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.
4.     Matematika adalah suatu pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk
5.     Matematika adalah suatu pengetahuan tentang struktur-struktur yang logic
6.     Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu tentang pola tentang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak didefinisikan ke unsur yang didefinisikan yang hanya menerima pembuktian yang logis.
Adapun matematika dan filsafat kedua-duanya merupakan pengetahuan rasional yang logis. Karena menurut Haryono (2015) kedua ilmu ini tidak melakukan ekspermen dan tidak memerlukan peralatan laboratorium dalam proses pencarian pengetahuan seperti halnya pada bidang biologi, kedokteran, farmasi, dan kimia. Filsafat dan matematika juag bergerak pada tingkat generalitas dan abstraksi serta dengan daya pemikiran yang mendalam. Kedua bidang pengethauan tersebut membahas berbagai ide yang sangat umum dan lazimnya melampaui taraf kekonkritan yang satu demi satu lainnya.
D.    Filsafat Matematika
Menurut Korner (Ernest, 1991), filsafat matematika tidaklah menambahkan sejumlah teorema dan teori matematika baru, sehingga filsafat matematika bukanlah matematika. filsafat matematika adalah refleski mengenai matematika yang menimbulkan munculnya pertanyaan dan jawabn tertentu. Haryono (2015) menjelaskan bahwa filsafat matematika bersifat koheren yang konsepsional. Secara singkat yang dimaksud dengan istilah koheren adalah runtut (consistent), maka untuk menjawabnya dengan pertama-tama memberikan batasan terhadap kontra koheren. Kebalikannya disebut tidak runtut (inconsistent) atau bertentangan (contradictory).
Berdasarkan penjelasan tersebut maka filsafat matematika merupakan pemikiran menyeluruh (reflektif) dan kompleks terhadap persoalan-persoalan mengenai sesuatu hal yang berkaitan dengan landasan dan dasar dari pengetahuan matematika serta hubungan matematika di segala bidang kehidupan manusia baik secara epistemologi, ontologi, metodologi, maupun aspek etis dan estetika pengetahuan matematika. Landasan tersebut mencakup beberapa konsep dasar, anggapan yang mendasar, asas permulaan, struktur teoritis, dan ukuran kebenaran serta eksistensi dan cakupan pengetahuan matematis.
Dalam filsafat matematika terdapat tiga aliran yaitu platonisme, absolutisme, dan falibilisme (Agung, 2009). Berikut penjelasan dari setiap aliran tersebut.
1.     Platonisme
Platonisme menganggap matematika adalah kebenaran mutlak dan pengetahuan matematika merupakan ilham Illahi. Platonisme memandang objek matematika adalah real dan eksistensi real objek dan struktur matematika adalah sebagai eksistensi realitas yang ideal dan bebas dari sifat manusiawi. Kegiaran matematika adalah proses menemukan hubungan-hubungan yang telah ada di alam semeseta.
Platonisem juga berpandangan bahwa manusia dan Tuhan dapat mengidentifikasi objek-objek abstrak, mengenal ruas garis atau himpunan. Kenyataan bahwa dalam memahami konsep abstrak, seringkali dengan cara menghubungkan objek-objek fisik secara bebas dan terbuka, tidak berarti manusia tidak dapat mengidentifikasi objek-objek abstrak tersebut.


2.     Absolutisme
Pengetahuan matematika terdiri dari kebenaran yang sudah pasti dan tidak dapat diubah, kebenaran yang bersifat absolut/mutlak, merupakan satu-satunya realitas pengetahuan yang sudah pasti, dan kebenarannya hanya bergantung pada logika dan kebenaran yang terkandung dalam term-termnya. Kebenaran matematika diturunkan dari definisi-definisi dan tidak dapat dikonfirmasi dengan fakta empiris. Klaim bahwa matematika dan logika adalah pengetahuan yang pasti benar secara mutlak, ditopang oleh pernyataan dasar yang digunakan dalam pembuktian merupakan pernyataan yang benar. Untuk tujuan mengembangkan sebuah sistem matematika berdasarkan kesepakatan, aksioma-aksioma matematika diasumsikan benar. Dengan demikian definisi matematika benar by fiat, dan teorema-teoremanya secara logika diterima sebagai benar. Selain itu aturan-aturan logika yang digunakan untuk menarik pengetahuan baru adalah benar, menolak segala sesuatu, kecuali bahwa kebenaran diturunkan dari kebenaran pula.
Dari aliran abolutisme ini melahirkan tiga aliran sebagai landasan matematika yaitu logisisme, formalisme, dan intuitionisme.
a.     Logisisme
Aliran logisisme merupakan sebuah aliran yang berpendapat bahwa matematika murni (science) didasarkan pada prinsip logika dan pengkajiannya juga harus menggunakan logika, sehingga matematika harus lebih logis dipahami. Dengan demikian logika dan matematika merupakan bidang yang sama karena seluruh konsep dan dalil matematika dapat diturunka dari logika. Aliran logisisme dipelopori oleh filosofi Inggris bernama Betrand Arthur William Russell (1872-1970) dengan diterbikan bukunya yang berjudul The Principles of Mathematics. Pengakuan Betrand Russell menerima logisisme adalah yang paling jelas dan dalam rumusan yang sangat eksplisit. Ada dua pernyataan penting yang dikemukakannya yaitu semua konsep matematika secara mutlak dapat disederhanakan pada konsep logika, dn semua kebenaran matematika dapat dibuktikan dari aksioma dan aturan melalui kesimpulan secara logika semata.
b.     Formalisme
Aliran formalism menyatakan bahwa matematika merupakan sistem lambing yang digunakan dalam mewakili benda-benda yang ada atau menggunakan simbol dan prose pengolahan terhadap lambing-lambang yang digunakan. Aliran formalism dipelopori oleh ahli matematika terbesae yaitu David Hilbert (1862-1943) yang berpendapat bawha matematika adalah tidak lebih atau tidak kurang sebagai bahasa matematika. Hal ini disederhanakan sebagai deretan permainan dengan rangkaian simbol-simbol linguistik. Simbol-simbol dianggap mewakili berbagai sasaran yang menjadi objek matematika.
c.     Intuitionisme
Aliran intuitionisme merupakan landasan matematika yang mengandalkan intuisi dalam mengkaji dan memahami matematika, karena itu intuisi merupakan sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika tentan matematika. Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Sebagai dasar menyusun pengetahuan secara teratur, intuisi tidak dapat diandalkan. Pengetahuan intuisi dapat dipergunakan sebagai hipotesa bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakan. Aliran ini dipelopori oleh seorang ahli matematika Belanda bernama Luitzen Egbertus Jan Brouwer (1881-1966). Dia berpendapat bahwa matematiak adalah sam dengan bagian yang eksak dari pemikiran manusia. Dalam pemikiran aliran intuitionisme ini matematika berlandaskan pada intuis dasar mengenai kemungkinan untuk membangun sebuah rangkaian bilangan yang tidak terbatas. Intuisi ini pada hakikatnya merupakan dasar suatu aktifitas berpikir yang bergantung pada pengalaman, bebas dari bahasa dan simbolisme, serta bersifat objektif.
3.     Falibilisme
Menurut falibisme, kebenaran matematika dapat menjadi subjek yang begitu sederhana, dan dalam banyak hal dapat dikritisi. Kebenaran matematika bersifat tidak sempurna (falibel), tidak kokoh, dan di masa depan dikoreksi serta direvisi.
Tesis aliran falibilisme dinyatakan dalam dua pernyataan. Dalam bentuk negatif, aliran falibilisme fokus untuk menolak pandangan absolutism dinyatakan sebagai kebenaran matematika bukanlah kebenaran yang mutlak dan kebenarannya tidak mempunyai validasi yang mutlak. Dalam bentuk positif, falibilisme menyatakan bahwa kebenaran matematka adalah tidak kookoh dan setiap saat terbuka untuk direvisi sampai tak hingga kali.
E.    Filsafat Pendidikan Matematika
Filsafat pendidikan matematika membahas mengenai proses pendidikan dalam bidang matematika. Menurut Wein (1973), pendidikan matematika adalah suatu studi aspek-aspek tentang sifat-sifat dasar dan sejarah matematika beserta psikologi belajar dan mengajarnya yang akan berkontribusi terhadap pemahaman guru dalam tugasnya bersama siswa, bersama-sama studi dan analisis kurikulum sekolah, prinsip-prinsip yang mendasari pengembangan dan praktik penggunaannya di kelas.
Dalam filsafat matematika mempersoalkan masalah-masalah (Sukardjono, 2011) berikut yaitu 1) sifat dasar matematika, 2) sejarah matematika, 3) psikologi belajar matematika, 4) teori mengajar matematika, 5) psikologi anak dalam kaitannya dengan belajar matematika, 6) pengembangan kurikulum matematika sekolah, dan 7) pelaksanaan kurikulum matematika di kelas.
Dalam filsafat pendidikan matematika ini berkaitan dengan filsafat konstruktivisme. pembelajaran matematika beracuan kontruktivisme adalah pembelajaran yang melibatkan siswa aktif belajar memahami dan membangun pengetahuan matematika berdasar pengalaman siswa sendiri. Dalam proses membangun pengetahuan matematika, siswa berinteraksi dengan lingkungan dan dihadapkan dengan informasi baru, informasi baru tersebut oleh kognisi siswa diserap melalui adaptasi. Sehingga aturan-aturan lama dapat dimodifikasi atau siswa membentuk aturan-aturan baru dalam benaknya.

De Vries dan Kohlberg (Suparno, 2008) mengikhtisarkan beberapa prinsip konstruktivisme Piaget yang perlu diperhatikan dalam mengajar matematika yaitu sebagai berikut.
1.     Struktur Psikologis harus dikembangkan dulu sebelum persoalan bilangan diperkenalkan. Bila murid mencoba menalarkan bilangan sebelum mereka menerima struktur logika matematis yang cocok dengan persoalannya, tidak akan jalan.
2.     Struktur Psikologis (skemata) harus dikembangkan dulu sebelum simbol formal diajarkan. Simbol adalah bahasa matematis, suatu bilangan tertulis yang merupakan representasi suatu konsep, tapi bukan konsepnya sendiri.
3.     Murid harus mendapat kesempatan untuk menemukan (membentuk) relasi matematis sendiri, jangan hanya selalu dihadapan kepada pemikiran orang dewasa yang sudah jadi.
4.     Suasana berpikir harus diciptakan. Sering pembelajaran matematika hanya mentransfer apa yang dipunyai guur kepada murid dalam wujud pelimpahan fakta matematika dan prosedur perhitungan kepada siswa. Siswa menjadi pasif. Banyak guru menekankan perhitungan dan bukan penalaran sehingga banyak murid menghafal belaka.

F.    Ontologi Matematika dan Pendidikan Matematika
1.     Pengertian Ontologi
Ontologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata on dan logos. On berarti ada dan logos berarti ilmu. Jadi, menurut etimologi ontologi berarti ilmu tentang keberadaan suatu yang ada. Kattsoff (Haryono, 2015: 111) menyatakan bahwa ontologi tersebut mencari ultimate reality atau kenyataan yang tak terhingga dan menjelaskannya. Sebagai contoh tentang pemikiran Thales yang berpendapat bahwa airlah yang menjadi substansi tak terhingga atau ultimate substance yang mengeluarkan suatu benda. Sehingga benda hanya berasal dari satu unsur saja yaitu air.
Menurut Soetriono dan Hanafie (2007) ontologi merupakan azas dalam menerapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi objek penelaahan (objek ontologis atau objek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realita (metafisika) dari objek ontologi atau objek formal tersebut dan dapat merupakan landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan keberadaan.
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ontologi adalah kajian filsafat tentng hakikat segala sesuatu yang ada baik kongkrit maupun abstrak. Hakikat yang ada ini dapat diartikan sebagai ada individu, ada umum, ada terbatas, ada tidak terbata, ada universal, ada mutlak, termasuk kosmologi dan metafisika serta ada sesudah kematian maupun sumber segala yang ada yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam ontologi terdapat 3 teori yang terkenal yaitu sebagai berikut.
a.     Idealisme. Teori ini mengajarkan bahwa ada yang sesungguhnya berada di dalam dunia ide. Segala sesuatu yang tampak dan wujud nayat dalam inderawi hanyalah merupakan gambaran atau bayangan dari yang sesungguhnya, yang berada di dunia ide. Jadi realitas yang sesungguhnya bukanlah yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan. Tokoh-tokoh idealis adalah George Berkeley, Immanuel Kant, dan Wilhelem Friedeich Hegel.
b.     Materialisme. Bagi materialism, ada yang sesungguhnya adalah yang keberadaannya semata-mata bersifat material atau sama sekali bergantung pada material. Jadi, realitas yang sesungguhnya alam kebendaan, dan segala sesuatu yang mengatasi alur kebendaan itu haruslah dikesampingkan. Oleh karena itu seluruh realitas hanya mungkin dijelaskan secara materialistis. Tokoh-tokoh materialistis adalah Democritus, Thomas Hobbes, dan Ludwig Andreas Feuerbach.
c.     Dualisme. Teori ini mengajarkan bahwa substansi individual terdiri dari dua tipe fundamental yang berbeda dan tak dapat direduksi kepada lainnya. Kedua tipe fundamental dari substansi itu ialah material dan mental. Dengan demikian dualism mengakui bahwa relaitas terdiri dari materi atau yang ada secara fisik dan mental atau yang keberadaanya tidak kelihatan secara fisis.
2.     Ontologi Matematika
Menurut Marsigit (2015:95) menyatakan bahwa ontologi matematika berusaha memahami keseluruhan dan kenyataan matematika, yaitu segala matematika yang mengada. Karena ontologi matematika adalah berusaha memahami kenyataan matematika, maka diperlukan pendekatan ontologis untuk mengetahui bagaimana wujud kenyataan matematika tersebut. Lebih lanjut dijelaskan bahwa awal dari usaha pendekatan ontologis adalah mencari pengertian menurut akar dan dasar terdalam dari kenyataan matematika sehingga pendekatan ontologis berusaha memikirkan kembali pemahaman paling dalam tentang kenyataan matematika yang telah termuat di dalam kenyataan diri serta pengalaman konkretnya.
Sedangkan menurut Haryono (2015: 53) ontologi matematika merupakan suatu teori mengenai keberadaan tentang apa yang ada (metafisik). Ontologi matematika menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara berbeda dimana entitas dari kategori-kategori logis yang berlainan dapat dikatakan ada, dalam kerangka tradisional onotologi dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal yang ada, sedangkan dalam hal pemakaiannya akhir-akhir ini ontologi dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada.
Lebih lanjut Haryono menjelaskan bahwa dalam ontologi matematika banyak hal yang dipersoalkan misalkan cakupan dari pertanyaan matematika yang berkaitan dengan dunia nyata (fakta) atau hanya dalam pikiran manusia, sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa cakupan tersebut merupakan suatu realitas dan eksistensi dari entitas-entitas matematika yang juga menjadi bahan pemikiran filsafat.
Dalam ontologi matematika ada banyak hal yang dipersoalkan misalnya cakupan dari pernyataan matematika yaitu cakupan dunia nyata dan tidak nyata, cakupan tersebut dalam pandangan realism empiri menjawab bahwa cakupan tersebut merupakan suaut realitas dan eksistensi dari entitas-entitas matematika juga menjadi bahan pemikiran filsafat. Misalnya dalam bidang geometri sudah lazim diterima bahwa diantara dua titik terdapat satu garis. Tetapi jika dicari dalam dunia pengalaman manusia, tidak pernah dijumpai titik dan garis dalam arti seutuhnya.
3.     Ontologi Pendidikan Matematika
Ontologi pendidikan matematika adalah mempelajarai hakekat matematika sekolah yang berbda dengan matematika formal. Hal ini dilakukan agar matematika dapat diterima secara perlahan atau sesuai dengan tingkat intelektual para siswa sekolah.
Penyajian matematika sekolah tidak harus diawali dengan teorema dan definisi tetapi harus diseuaikan dengan tingkat intelektual siswa. Hal ini diperlukan agar pembelajaran matematika bermakna dan bermanfaat bagi siswa. Untuk ini pembelajaran matematika dimulai hal-hal yang bersifat kongkrit kemudian secara bertahap menuju ke arah yang lebih formal dan abstrak. Berikutnya pola pikir dikembangkan mulai dari pola pikir induktif untuk anak sekolah dasar kemudian secara bertahap mengarah kepada penekanan pola pikir deduktif pada siswa sekolah menengah dan lanjutan. Perluasan semesta pembicaran matematika juga dilakukan secara bertahap, semakin meningkat intelektualitas siswa maka semakin luas semesta pembicaraanya. Demikian juga tingkat keabstrakan matematika, dimulai dengan memperkenalkan benda-benda kongkrit pada siswa SD kemudia bertahap kepada situasi formal dan abstrak kepada siswa SMP dan SMA.
Dengan demikian, pendidikan matematika dimulai dnegan memahami ontologi matematika sekolah, satu diantaranya adalah memahami karakteristik matematika sekolah yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektual siswa.
G.   Penutup
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat matematika merupakan pemikiran menyeluruh (reflektif) dan kompleks terhadap persoalan-persoalan mengenai sesuatu hal yang berkaitan dengan landasan dan dasar dari pengetahuan matematika serta hubungan matematika di segala bidang kehidupan manusia. Dalam filsafat matematika terdapat tiga aliran yaitu platonisme, absolutisme, dan falibilisme. Objek kajian filsafat mengenai  ontologi adalah kajian filsafat tentang hakikat segala sesuatu yang ada baik kongkrit maupun abstrak. Hakikat yang ada ini dapat diartikan sebagai ada individu, ada umum, ada terbatas, ada tidak terbatas, ada universal, ada mutlak, termasuk kosmologi dan metafisika serta ada sesudah kematian maupun sumber segala yang ada yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Adapun ontologi matematika berarti merupakan suatu teori mengenai keberadaan tentang apa yang ada (metafisik)  dalam matematika itu sendiri. Sedangkan ontologi pada pendidikan matematika yaitu memperjelas hakikat matematika dan pembelajaran matematika. Guru matematika memiliki peran penting dalam membelajarkan hakikat matematika sehingga diharapkan siswa memiliki pemahaman matematika yang bermakna dan berguna bagi kehidupannya kelak.
DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika Sekolah  Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Depdiknas.

Hamzah, Ali M dan Muhlisrarini. (2014). Perencanaan dan Strategi Pembelajaran
Matematika.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Haryono, D. (2015). Filsafat Matematika: Suatu Tinjauan Epistemologi dan Filosofis. Alfabeta: Bandung.

Heruman. (2013). Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung: Remaja Rosdakarya

Marsigit. (2015). Filsafat Matematika dan Praktis Pendidikan Matematika.Yogyakarta: UNY Press

Prabowo, Agung. (2009). Aliran-aliran filsafat dalam matematika. JMP, 1(2), 25-45

Soedjadi, R. (2000). Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta: DirektoratJenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.

Sukardjono. (2011) Hakekat dan Sejarah Matematika. In: Hakikat Matematika. Universitas Terbuka, Jakarta, pp. 1-44

Suparno, Paul. (1997). Filsafat konstruktivisme dalam pendidikan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.


0 komentar:

Posting Komentar