Senin, 29 Oktober 2018

:: Refleksi Filsafat Ilmu V : Ketika Filsafat Memandang


Ketika Filsafat Memandang
Refleski perkuliahan filsafat ilmu kali ini berdasarkan pertanyaan-pertanyaan teman-teman dikelas. Karena pertanyaan-pertanyaan di dalam kelas menyangkut mengenai bagaiaman filsafat memandang sesuatu. Berikut adalah pertanyaan teman-teman dan jawaban dari Pak Marsigit.
1.      Bagaimana ciri orang yang menguasai ruang dan waktu?
Tiadalah orang yang mampu sebenar-benar menguasai ruang dan waktu, yang ada hanyalah berusaha. Maka orang itu menguasai ruang atau waktu jika dia itu ada. Yang dimaksud ada adalah punya kesadaran disitu. Punya kesadaran di ruang yang semestinya dia ada. Sebaliknya, dia terancam kematian, orang yang tidak berada di ruang dan waktu yang tepat. Contoh: Kamu masuk kandang macan, terancam kematian (dalam arti harfiah). Sebenar-benar kematian itu rentang dari bumi sampai langit. Ketika anda seharusnya berpikir tetapi tidak berpikir, maka secara filsafat anda itu adalah orang yang mati. Maka para filsuf berkata. Sesungguhnya aku sedang melihat para mayat yang berjalan. Karena aku sedang melihat mereka tidak dalam keadaan berpikir, tetapi saling menjelekan, membuat hoax, terancam kematian. Jika dinaikkan spiritual, sebenar-benarnya aku sedang melihat para santri-santriku tidak dalam keadaan berdoa. Dialah sebenar-benarnya mayat-mayat yang berjalan.
2.      Bagaimana filsafat memandang Semar, Gareng, Petruk, Bagong dalam pewayangan?
Itu adalah Filsafat Jawa Sunan Kalijaga, caranya menyebarkan agama Islam menggunakan pewayangan dari agama Hindu. Tetapi menciptakan tokoh yang tidak ada disana, tokoh itu diciptakan di Jawa, yaitu Semar yang mempunyai anak Gareng, Petruk, Bagong. Itu metafisik. Metafisik adalah arti di sebalik Semar. Semar itu ilmunya, Gareng itu hatinya, Petruk itu perilakunya, Bagong itu bayangan atau kenyataannya.  Hidup itu ada ilmu, hati, perilaku, dan baying-bayang atau kenyataannya. Punokawan itu mengikuti seorang ksatria yang bisa mengalahkan para dewa. Kemanapun arwah pergi, pikiran, hati, perilaku, dan kenyataan selalu mengikutinya, yang disebut dengan Punokawan.
3.      Bagaimana kita mempunyai kesadaran di dalam dan kesadaran di luar?
Filsafat itu kesadaran di dalam pikir, yaitu memikirkannya. Awal daripada berpikir adalah bertanya. Tiada bertanya tiada berpikir. Kesadaran di luar adalah panca indera. Satu dari panca indera kita sudah menangkap berarti kesadaran di luar.
4.       Mungkinkah filsafat disampaikan dengan sederhana?
Sangat mungkin, tetapi kuliah filsafat tidak dalam kedudukan menyampaikan filsafat. Kuliah filsafat hanya memfasilitasi supaya mahasiswa untuk berfilsafat. Secara sederhana filsafat itu metafisik. Metafisik itu bertanya. Bertanya apa, mengapa. Apa yang dimaksud, itu sudah berfilsafat. Itu paling sederhana, pertanyaan apa dan mengapa. Tapi filsafat itu membangun dunia pikiran dengan bahasa yang sangat sederhana, yaitu aku dan bukan aku. Maka membangun dunia dan akhirat cukup dengan A dan bukan A.
5.      Kapan suatu hal dikatakan baik, lebih baik, atau paling baik?
Sesuatu dipandang baik, lebih baik, atau paling baik jika sesuai dengan ruang dan waktunya. Kalau tidak sesuai ruang dan waktu maka menjadi tidak baik. Hanya masalahnya ruang dan waktu apa? Ternyata semuanya. Semua  adalah ruang. Ruang adalah waktu, waktu adalah ruang. Tak mungkin memahami ruang tanpa waktu dan tak mungkin memahami waktu tanpa ruang. Disini pasti hubungannya dengan kapan, kalau tidak ada kapan, kamu tidak bisa disini.
6.      Bagaimana filsafat mendefinisikan tentang sabar?
Sabar dalam khasanah filsafat adalah gejala psikologi. Psikologi adalah wacana, gejala jiwa, jiwa yang sabar. Itu adalah suatu keadaan. Suatu keadaan adalah ruang. Jadi sabar adalah kamu menciptakan suatu keadaan dengan ciri-ciri sabar. Sabar adalah ruang, kamu menciptakan ruang. Sama juga filsafat memandang sifat ego, kesadaran diri. Tanpa ada kesadaran diri, tidak ada ego, tanpa ego tidak ada kesadaran diri. Maka semua orang mempunyai ego. Semua orang mempunyai kesadaran diri. Jika orang sedang tidur tidak punya ego. Maka semua peraturan itu sebetulnya salah. Kalau mau tepat ya semua peraturan dibuat bagi orang-orang yang tidak sedang tidur. Kalau kesadarannya sudah dibangkitkan, tapi dia tidak kenal ruang dan waktu, itu disorientasi.
7.       Apakah itu paradoks?
Paradoks itu ilmu. Sebenar-benar ilmu karena paradoks. Paradoks itu pertentangan, pertentangan itu sintesis, sintesis itu logos. Logos itu bergerak. Pertentangan itu ada batas. Bagi yang punya ilmunya maka dia akan meningkat. Bagi yang tidak, tenggelam. Maka yang terjadi kamu semua itu ada karena paradoks. Kamu bisa melihat karena pertentangan antara bayang-bayang dan sinar.
8.      Apakah makna ujian secara filsafat?
Jawab singkat manfaatnya banyak, bukan semata-mata untuk menguji, namun jawab singkat ini adalah untuk mengadakan yang mungkin ada, yang belum pernah mendengar sampai mendengar. Ujian itu sendiri adalah memasangkan keadaan kesesuaian dengan ruang dan waktunya. Misalnya, 4+5=9. Tapi dia tidak bisa menjawab, berarti di dalam pikirannya tidak terjadi sintesis antara empat dan lima. Maka dia menjawabnya bukan 9. Kalau ujian pikiran itu ruangnya konsisten, ukurannya konsisten. Konsisten artinya tidak ada pertentangan, tetapi kalau ujian kenyataan itu ukurannya adalah cocok/sesuai dengan ruang dan waktunya. Kalau ujian spiritual maka dia adalah sebenar-benar orang mampu diuji dan menguji kecuali atas kehendak Allah.
9.      Bagaimana filsafat memandang masalah yang ada dalam hidup ini?
Hidup itu masalah, kalau tidak mau mempunyai masalah jangan hidup. Maka dinikmati saja. Jangankan di dunia, di akhirat pun ada masalah. Jadi masalah adalah tesis bertemu dengan anti tesis. Oksigen itu tesis, karbohidrat itu anti tesis. Oksigen bertemu karbohidrat di darah timbul masalah. Orang yang tidak mampu melihat masalah adalah orang bodoh. Sebener-benar orang  bodoh kalau dia tidak menyadarinya. Tiadalah orang sebenar-benar mampu mengatasi masalah kecuali atas pertolongan Tuhan. Karena Tuhan itulah Sang Maha Pemecah Masalah.
10.  Kehilangan apakah yang membuat manusia bahagia dan tidak sedih?
Filsafat itu bertingkat-tingkat, dari material, formal, normative, dan spiritual. Secara material maka kehilangan materinya menjadi sedih. Secara normatif, pikiran, ilmunya, filsafatnya, kehilangan akal/logika/daya pikir. Ditingkatkan dari sisi spiritual, kehilangan akidah, ketakwaan yang menjadi sedih. Jikalau orang-orang yang kehilangan tersebut, orang tersebut tidak merasa sedih. Maka sebenar-benar manusia bahagia itu jika sesuai ruang dan waktunya. Bahagia itu sifat, sifat dari suatu keadaan perasaan. Itu gejala psikologi, maka kebahagiaan manusia adalah kebahagiaan yang relatif. Kalau naik ke spiritual menjadi kebahagiaan absolut atau abadi.
11.  Bagaimana mensinkronkan apa yang dipikirkan dan yang dirasakan?
Yang dirasakan baik, buruk, indah, tidak indah. Yang dipikirkan, benar, salah. Baik benar, baik salah,  buruk benar, buruk salah. Tiadalah manusia mampu mensinkronkan kecuali atas pertolongan Tuhan. Tuhan itu yang Maha Menyinkronkan. Manusia hanya berusaha supaya sinkron dengan menggunakan metode hermenitika. Hermenitika adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Yang diterjemahkan adalah semuanya, A dan bukan A. Diterjemahkan artinya diinteraksikan/berinteraksi. Salah satu interaksi adalah tanya jawab di kelas agar kita tahu pikiran kita tidak sesuai. Kita dapat mengetahuinya dari selain diri kita sendiri, dari orang lain, tanaman, binatang. Kamu menyinkronkan diriantara kamu dan bukan dirimu. Jadi belum tentu yang baik itu benar, baik itu salah, benar itu baik, benar itu salah.
12.   Kapan kita menggunakan pikiran, kapan menggunakan perasaan?
Maka sebenar-benar hidup adalah holistik dan komprehensif. Hidup dalam keseluruhan. Diri dalam keseluruhan dan keseluruhan di dalam diri. Supaya sinkron, maka semua harus dikelola lewat spiritualitas, keyakinan dan ibadahnya masing-masing. Pikiran dan perasaan setiap saat berganti-ganti, berinteraksi. Berpikir itu sepersekian puluh detik sudah terus, antara tesis sintesis. Belum lagi hati. Maka sebenar-benar hati harus dalam keadaan bergetar dan getaran hati itu panggilan kepada Tuhan dalam keadaan apapun. Maka semua perkara dibalut dengan getaran hati dalam keadaan memanggil nama Tuhan. Karena ibadah tertinggi adalah ibadah memanggil nama Tuhan karena hanya Tuhanlah yang bisa sama dengan namaNya. Maka tidak ada ciptaan Tuhan yang mampu menyamaiNya. Jika ingin selamat dunia akhirat harus selalu bergetar hatinya dalam keadaan sadar maupun tidak sadar, bekerja maupun tertidur. Sedetik engkau tidak dalam keadaan berdoa, masuklah setan atau potensi negatif. Banyak diantara orang sukses meraih, banyak pula yang gagal mempertahankan karena tidak siap mentalnya.
13.  Kenapa mudah lupa?
Itu sunatullah dan kodratnya. Sebab kalau tidak bisa lupa tidak bisa hidup. Maka sebenar-benar hidup adalah lupa.
14.  Dimana letak perbedaan antara positif dan kontemporer?
Kontemporer adalah kekinian, keadaan zaman sekarang. Tetapi penggeraknya itu postif. Maka positif dan kontemporer tidak bisa dipisah. Jaman now adalah jaman vuca. V, Volatil adalah rentan. U, uncertainty adalah ketidakpastian. Barang siapa ragu-ragu, maka masuklah setan. C, complicated adalah sangat kompleks keadaannya. Zaman yang tidak sederhana lagi. Hidup ini adalah daya ingat, tanpa ada daya ingat kita tidak bisa hidup. Maka sebenar-benar hidup adalah ingat. Orang tidak menyadari intuisi kalau tidak belajar filsafat. Itu yang disebut intuisi dua satu. Bergaul itu penting untuk mempertahankan supaya terjaga daya ingat. Lupa dan ingat ada batasnya. Maka sebenar-benar hidup itu batas. Semua dalam ruang dan waktunya. Memandang itu bergantian, bernapas, berbicara itu juga bergantian. Bergantian itu seri, kodrat. Tapi sembari berbicara, bernapas, mendengar bersama-sama itu paralel. Jadi hidup itu paralel. Maka bergantian ada ruang dan waktunya. Paralel juga ada ruang dan waktunya.





0 komentar:

Posting Komentar