Ketika
Filsafat Memandang
Refleski
perkuliahan filsafat ilmu kali ini berdasarkan pertanyaan-pertanyaan
teman-teman dikelas. Karena pertanyaan-pertanyaan di dalam kelas menyangkut
mengenai bagaiaman filsafat memandang sesuatu. Berikut adalah pertanyaan teman-teman
dan jawaban dari Pak Marsigit.
1. Bagaimana
ciri orang yang menguasai ruang dan waktu?
Tiadalah orang yang
mampu sebenar-benar menguasai ruang dan waktu, yang ada hanyalah berusaha. Maka
orang itu menguasai ruang atau waktu jika dia itu ada. Yang dimaksud ada adalah
punya kesadaran disitu. Punya kesadaran di ruang yang semestinya dia ada.
Sebaliknya, dia terancam kematian, orang yang tidak berada di ruang dan waktu
yang tepat. Contoh: Kamu masuk kandang macan, terancam kematian (dalam arti
harfiah). Sebenar-benar kematian itu rentang dari bumi sampai langit. Ketika
anda seharusnya berpikir tetapi tidak berpikir, maka secara filsafat anda itu
adalah orang yang mati. Maka para filsuf berkata. Sesungguhnya aku sedang
melihat para mayat yang berjalan. Karena aku sedang melihat mereka tidak dalam
keadaan berpikir, tetapi saling menjelekan, membuat hoax, terancam kematian.
Jika dinaikkan spiritual, sebenar-benarnya aku sedang melihat para
santri-santriku tidak dalam keadaan berdoa. Dialah sebenar-benarnya mayat-mayat
yang berjalan.
2. Bagaimana
filsafat memandang Semar, Gareng, Petruk, Bagong dalam pewayangan?
Itu adalah Filsafat
Jawa Sunan Kalijaga, caranya menyebarkan agama Islam menggunakan pewayangan
dari agama Hindu. Tetapi menciptakan tokoh yang tidak ada disana, tokoh itu
diciptakan di Jawa, yaitu Semar yang mempunyai anak Gareng, Petruk, Bagong. Itu
metafisik. Metafisik adalah arti di sebalik Semar. Semar itu ilmunya, Gareng
itu hatinya, Petruk itu perilakunya, Bagong itu bayangan atau kenyataannya. Hidup itu ada ilmu, hati, perilaku, dan
baying-bayang atau kenyataannya. Punokawan itu mengikuti seorang ksatria yang
bisa mengalahkan para dewa. Kemanapun arwah pergi, pikiran, hati, perilaku, dan
kenyataan selalu mengikutinya, yang disebut dengan Punokawan.
3. Bagaimana
kita mempunyai kesadaran di dalam dan kesadaran di luar?
Filsafat itu kesadaran
di dalam pikir, yaitu memikirkannya. Awal daripada berpikir adalah bertanya.
Tiada bertanya tiada berpikir. Kesadaran di luar adalah panca indera. Satu dari
panca indera kita sudah menangkap berarti kesadaran di luar.
4. Mungkinkah filsafat disampaikan dengan
sederhana?
Sangat mungkin, tetapi
kuliah filsafat tidak dalam kedudukan menyampaikan filsafat. Kuliah filsafat
hanya memfasilitasi supaya mahasiswa untuk berfilsafat. Secara sederhana
filsafat itu metafisik. Metafisik itu bertanya. Bertanya apa, mengapa. Apa yang
dimaksud, itu sudah berfilsafat. Itu paling sederhana, pertanyaan apa dan
mengapa. Tapi filsafat itu membangun dunia pikiran dengan bahasa yang sangat sederhana,
yaitu aku dan bukan aku. Maka membangun dunia dan akhirat cukup dengan A dan
bukan A.
5. Kapan
suatu hal dikatakan baik, lebih baik, atau paling baik?
Sesuatu dipandang baik,
lebih baik, atau paling baik jika sesuai dengan ruang dan waktunya. Kalau tidak
sesuai ruang dan waktu maka menjadi tidak baik. Hanya masalahnya ruang dan
waktu apa? Ternyata semuanya. Semua
adalah ruang. Ruang adalah waktu, waktu adalah ruang. Tak mungkin
memahami ruang tanpa waktu dan tak mungkin memahami waktu tanpa ruang. Disini
pasti hubungannya dengan kapan, kalau tidak ada kapan, kamu tidak bisa disini.
6. Bagaimana
filsafat mendefinisikan tentang sabar?
Sabar dalam khasanah
filsafat adalah gejala psikologi. Psikologi adalah wacana, gejala jiwa, jiwa
yang sabar. Itu adalah suatu keadaan. Suatu keadaan adalah ruang. Jadi sabar
adalah kamu menciptakan suatu keadaan dengan ciri-ciri sabar. Sabar adalah
ruang, kamu menciptakan ruang. Sama juga filsafat memandang sifat ego,
kesadaran diri. Tanpa ada kesadaran diri, tidak ada ego, tanpa ego tidak ada
kesadaran diri. Maka semua orang mempunyai ego. Semua orang mempunyai kesadaran
diri. Jika orang sedang tidur tidak punya ego. Maka semua peraturan itu
sebetulnya salah. Kalau mau tepat ya semua peraturan dibuat bagi orang-orang
yang tidak sedang tidur. Kalau kesadarannya sudah dibangkitkan, tapi dia tidak
kenal ruang dan waktu, itu disorientasi.
7. Apakah itu paradoks?
Paradoks itu ilmu.
Sebenar-benar ilmu karena paradoks. Paradoks itu pertentangan, pertentangan itu
sintesis, sintesis itu logos. Logos itu bergerak. Pertentangan itu ada batas.
Bagi yang punya ilmunya maka dia akan meningkat. Bagi yang tidak, tenggelam.
Maka yang terjadi kamu semua itu ada karena paradoks. Kamu bisa melihat karena
pertentangan antara bayang-bayang dan sinar.
8. Apakah
makna ujian secara filsafat?
Jawab singkat
manfaatnya banyak, bukan semata-mata untuk menguji, namun jawab singkat ini
adalah untuk mengadakan yang mungkin ada, yang belum pernah mendengar sampai
mendengar. Ujian itu sendiri adalah memasangkan keadaan kesesuaian dengan ruang
dan waktunya. Misalnya, 4+5=9. Tapi dia tidak bisa menjawab, berarti di dalam
pikirannya tidak terjadi sintesis antara empat dan lima. Maka dia menjawabnya
bukan 9. Kalau ujian pikiran itu ruangnya konsisten, ukurannya konsisten.
Konsisten artinya tidak ada pertentangan, tetapi kalau ujian kenyataan itu
ukurannya adalah cocok/sesuai dengan ruang dan waktunya. Kalau ujian spiritual
maka dia adalah sebenar-benar orang mampu diuji dan menguji kecuali atas
kehendak Allah.
9. Bagaimana
filsafat memandang masalah yang ada dalam hidup ini?
Hidup itu masalah,
kalau tidak mau mempunyai masalah jangan hidup. Maka dinikmati saja. Jangankan
di dunia, di akhirat pun ada masalah. Jadi masalah adalah tesis bertemu dengan
anti tesis. Oksigen itu tesis, karbohidrat itu anti tesis. Oksigen bertemu
karbohidrat di darah timbul masalah. Orang yang tidak mampu melihat masalah
adalah orang bodoh. Sebener-benar orang
bodoh kalau dia tidak menyadarinya. Tiadalah orang sebenar-benar mampu
mengatasi masalah kecuali atas pertolongan Tuhan. Karena Tuhan itulah Sang Maha
Pemecah Masalah.
10. Kehilangan
apakah yang membuat manusia bahagia dan tidak sedih?
Filsafat itu
bertingkat-tingkat, dari material, formal, normative, dan spiritual. Secara
material maka kehilangan materinya menjadi sedih. Secara normatif, pikiran,
ilmunya, filsafatnya, kehilangan akal/logika/daya pikir. Ditingkatkan dari sisi
spiritual, kehilangan akidah, ketakwaan yang menjadi sedih. Jikalau orang-orang
yang kehilangan tersebut, orang tersebut tidak merasa sedih. Maka sebenar-benar
manusia bahagia itu jika sesuai ruang dan waktunya. Bahagia itu sifat, sifat dari
suatu keadaan perasaan. Itu gejala psikologi, maka kebahagiaan manusia adalah
kebahagiaan yang relatif. Kalau naik ke spiritual menjadi kebahagiaan absolut
atau abadi.
11. Bagaimana
mensinkronkan apa yang dipikirkan dan yang dirasakan?
Yang dirasakan baik,
buruk, indah, tidak indah. Yang dipikirkan, benar, salah. Baik benar, baik
salah, buruk benar, buruk salah.
Tiadalah manusia mampu mensinkronkan kecuali atas pertolongan Tuhan. Tuhan itu
yang Maha Menyinkronkan. Manusia hanya berusaha supaya sinkron dengan
menggunakan metode hermenitika. Hermenitika adalah menterjemahkan dan
diterjemahkan. Yang diterjemahkan adalah semuanya, A dan bukan A. Diterjemahkan
artinya diinteraksikan/berinteraksi. Salah satu interaksi adalah tanya jawab di
kelas agar kita tahu pikiran kita tidak sesuai. Kita dapat mengetahuinya dari
selain diri kita sendiri, dari orang lain, tanaman, binatang. Kamu
menyinkronkan diriantara kamu dan bukan dirimu. Jadi belum tentu yang baik itu
benar, baik itu salah, benar itu baik, benar itu salah.
12. Kapan kita menggunakan pikiran, kapan
menggunakan perasaan?
Maka sebenar-benar
hidup adalah holistik dan komprehensif. Hidup dalam keseluruhan. Diri dalam
keseluruhan dan keseluruhan di dalam diri. Supaya sinkron, maka semua harus
dikelola lewat spiritualitas, keyakinan dan ibadahnya masing-masing. Pikiran
dan perasaan setiap saat berganti-ganti, berinteraksi. Berpikir itu sepersekian
puluh detik sudah terus, antara tesis sintesis. Belum lagi hati. Maka
sebenar-benar hati harus dalam keadaan bergetar dan getaran hati itu panggilan
kepada Tuhan dalam keadaan apapun. Maka semua perkara dibalut dengan getaran
hati dalam keadaan memanggil nama Tuhan. Karena ibadah tertinggi adalah ibadah
memanggil nama Tuhan karena hanya Tuhanlah yang bisa sama dengan namaNya. Maka
tidak ada ciptaan Tuhan yang mampu menyamaiNya. Jika ingin selamat dunia
akhirat harus selalu bergetar hatinya dalam keadaan sadar maupun tidak sadar,
bekerja maupun tertidur. Sedetik engkau tidak dalam keadaan berdoa, masuklah
setan atau potensi negatif. Banyak diantara orang sukses meraih, banyak pula
yang gagal mempertahankan karena tidak siap mentalnya.
13. Kenapa
mudah lupa?
Itu sunatullah dan
kodratnya. Sebab kalau tidak bisa lupa tidak bisa hidup. Maka sebenar-benar
hidup adalah lupa.
14. Dimana
letak perbedaan antara positif dan kontemporer?
Kontemporer adalah
kekinian, keadaan zaman sekarang. Tetapi penggeraknya itu postif. Maka positif
dan kontemporer tidak bisa dipisah. Jaman now adalah jaman vuca. V, Volatil
adalah rentan. U, uncertainty adalah ketidakpastian. Barang siapa ragu-ragu,
maka masuklah setan. C, complicated adalah sangat kompleks keadaannya. Zaman
yang tidak sederhana lagi. Hidup ini adalah daya ingat, tanpa ada daya ingat
kita tidak bisa hidup. Maka sebenar-benar hidup adalah ingat. Orang tidak
menyadari intuisi kalau tidak belajar filsafat. Itu yang disebut intuisi dua
satu. Bergaul itu penting untuk mempertahankan supaya terjaga daya ingat. Lupa
dan ingat ada batasnya. Maka sebenar-benar hidup itu batas. Semua dalam ruang
dan waktunya. Memandang itu bergantian, bernapas, berbicara itu juga
bergantian. Bergantian itu seri, kodrat. Tapi sembari berbicara, bernapas,
mendengar bersama-sama itu paralel. Jadi hidup itu paralel. Maka bergantian ada
ruang dan waktunya. Paralel juga ada ruang dan waktunya.
0 komentar:
Posting Komentar