Senin, 29 Oktober 2018

:: Refleksi Filsafat Ilmu V : Ketika Filsafat Memandang


Ketika Filsafat Memandang
Refleski perkuliahan filsafat ilmu kali ini berdasarkan pertanyaan-pertanyaan teman-teman dikelas. Karena pertanyaan-pertanyaan di dalam kelas menyangkut mengenai bagaiaman filsafat memandang sesuatu. Berikut adalah pertanyaan teman-teman dan jawaban dari Pak Marsigit.
1.      Bagaimana ciri orang yang menguasai ruang dan waktu?
Tiadalah orang yang mampu sebenar-benar menguasai ruang dan waktu, yang ada hanyalah berusaha. Maka orang itu menguasai ruang atau waktu jika dia itu ada. Yang dimaksud ada adalah punya kesadaran disitu. Punya kesadaran di ruang yang semestinya dia ada. Sebaliknya, dia terancam kematian, orang yang tidak berada di ruang dan waktu yang tepat. Contoh: Kamu masuk kandang macan, terancam kematian (dalam arti harfiah). Sebenar-benar kematian itu rentang dari bumi sampai langit. Ketika anda seharusnya berpikir tetapi tidak berpikir, maka secara filsafat anda itu adalah orang yang mati. Maka para filsuf berkata. Sesungguhnya aku sedang melihat para mayat yang berjalan. Karena aku sedang melihat mereka tidak dalam keadaan berpikir, tetapi saling menjelekan, membuat hoax, terancam kematian. Jika dinaikkan spiritual, sebenar-benarnya aku sedang melihat para santri-santriku tidak dalam keadaan berdoa. Dialah sebenar-benarnya mayat-mayat yang berjalan.
2.      Bagaimana filsafat memandang Semar, Gareng, Petruk, Bagong dalam pewayangan?
Itu adalah Filsafat Jawa Sunan Kalijaga, caranya menyebarkan agama Islam menggunakan pewayangan dari agama Hindu. Tetapi menciptakan tokoh yang tidak ada disana, tokoh itu diciptakan di Jawa, yaitu Semar yang mempunyai anak Gareng, Petruk, Bagong. Itu metafisik. Metafisik adalah arti di sebalik Semar. Semar itu ilmunya, Gareng itu hatinya, Petruk itu perilakunya, Bagong itu bayangan atau kenyataannya.  Hidup itu ada ilmu, hati, perilaku, dan baying-bayang atau kenyataannya. Punokawan itu mengikuti seorang ksatria yang bisa mengalahkan para dewa. Kemanapun arwah pergi, pikiran, hati, perilaku, dan kenyataan selalu mengikutinya, yang disebut dengan Punokawan.
3.      Bagaimana kita mempunyai kesadaran di dalam dan kesadaran di luar?
Filsafat itu kesadaran di dalam pikir, yaitu memikirkannya. Awal daripada berpikir adalah bertanya. Tiada bertanya tiada berpikir. Kesadaran di luar adalah panca indera. Satu dari panca indera kita sudah menangkap berarti kesadaran di luar.
4.       Mungkinkah filsafat disampaikan dengan sederhana?
Sangat mungkin, tetapi kuliah filsafat tidak dalam kedudukan menyampaikan filsafat. Kuliah filsafat hanya memfasilitasi supaya mahasiswa untuk berfilsafat. Secara sederhana filsafat itu metafisik. Metafisik itu bertanya. Bertanya apa, mengapa. Apa yang dimaksud, itu sudah berfilsafat. Itu paling sederhana, pertanyaan apa dan mengapa. Tapi filsafat itu membangun dunia pikiran dengan bahasa yang sangat sederhana, yaitu aku dan bukan aku. Maka membangun dunia dan akhirat cukup dengan A dan bukan A.
5.      Kapan suatu hal dikatakan baik, lebih baik, atau paling baik?
Sesuatu dipandang baik, lebih baik, atau paling baik jika sesuai dengan ruang dan waktunya. Kalau tidak sesuai ruang dan waktu maka menjadi tidak baik. Hanya masalahnya ruang dan waktu apa? Ternyata semuanya. Semua  adalah ruang. Ruang adalah waktu, waktu adalah ruang. Tak mungkin memahami ruang tanpa waktu dan tak mungkin memahami waktu tanpa ruang. Disini pasti hubungannya dengan kapan, kalau tidak ada kapan, kamu tidak bisa disini.
6.      Bagaimana filsafat mendefinisikan tentang sabar?
Sabar dalam khasanah filsafat adalah gejala psikologi. Psikologi adalah wacana, gejala jiwa, jiwa yang sabar. Itu adalah suatu keadaan. Suatu keadaan adalah ruang. Jadi sabar adalah kamu menciptakan suatu keadaan dengan ciri-ciri sabar. Sabar adalah ruang, kamu menciptakan ruang. Sama juga filsafat memandang sifat ego, kesadaran diri. Tanpa ada kesadaran diri, tidak ada ego, tanpa ego tidak ada kesadaran diri. Maka semua orang mempunyai ego. Semua orang mempunyai kesadaran diri. Jika orang sedang tidur tidak punya ego. Maka semua peraturan itu sebetulnya salah. Kalau mau tepat ya semua peraturan dibuat bagi orang-orang yang tidak sedang tidur. Kalau kesadarannya sudah dibangkitkan, tapi dia tidak kenal ruang dan waktu, itu disorientasi.
7.       Apakah itu paradoks?
Paradoks itu ilmu. Sebenar-benar ilmu karena paradoks. Paradoks itu pertentangan, pertentangan itu sintesis, sintesis itu logos. Logos itu bergerak. Pertentangan itu ada batas. Bagi yang punya ilmunya maka dia akan meningkat. Bagi yang tidak, tenggelam. Maka yang terjadi kamu semua itu ada karena paradoks. Kamu bisa melihat karena pertentangan antara bayang-bayang dan sinar.
8.      Apakah makna ujian secara filsafat?
Jawab singkat manfaatnya banyak, bukan semata-mata untuk menguji, namun jawab singkat ini adalah untuk mengadakan yang mungkin ada, yang belum pernah mendengar sampai mendengar. Ujian itu sendiri adalah memasangkan keadaan kesesuaian dengan ruang dan waktunya. Misalnya, 4+5=9. Tapi dia tidak bisa menjawab, berarti di dalam pikirannya tidak terjadi sintesis antara empat dan lima. Maka dia menjawabnya bukan 9. Kalau ujian pikiran itu ruangnya konsisten, ukurannya konsisten. Konsisten artinya tidak ada pertentangan, tetapi kalau ujian kenyataan itu ukurannya adalah cocok/sesuai dengan ruang dan waktunya. Kalau ujian spiritual maka dia adalah sebenar-benar orang mampu diuji dan menguji kecuali atas kehendak Allah.
9.      Bagaimana filsafat memandang masalah yang ada dalam hidup ini?
Hidup itu masalah, kalau tidak mau mempunyai masalah jangan hidup. Maka dinikmati saja. Jangankan di dunia, di akhirat pun ada masalah. Jadi masalah adalah tesis bertemu dengan anti tesis. Oksigen itu tesis, karbohidrat itu anti tesis. Oksigen bertemu karbohidrat di darah timbul masalah. Orang yang tidak mampu melihat masalah adalah orang bodoh. Sebener-benar orang  bodoh kalau dia tidak menyadarinya. Tiadalah orang sebenar-benar mampu mengatasi masalah kecuali atas pertolongan Tuhan. Karena Tuhan itulah Sang Maha Pemecah Masalah.
10.  Kehilangan apakah yang membuat manusia bahagia dan tidak sedih?
Filsafat itu bertingkat-tingkat, dari material, formal, normative, dan spiritual. Secara material maka kehilangan materinya menjadi sedih. Secara normatif, pikiran, ilmunya, filsafatnya, kehilangan akal/logika/daya pikir. Ditingkatkan dari sisi spiritual, kehilangan akidah, ketakwaan yang menjadi sedih. Jikalau orang-orang yang kehilangan tersebut, orang tersebut tidak merasa sedih. Maka sebenar-benar manusia bahagia itu jika sesuai ruang dan waktunya. Bahagia itu sifat, sifat dari suatu keadaan perasaan. Itu gejala psikologi, maka kebahagiaan manusia adalah kebahagiaan yang relatif. Kalau naik ke spiritual menjadi kebahagiaan absolut atau abadi.
11.  Bagaimana mensinkronkan apa yang dipikirkan dan yang dirasakan?
Yang dirasakan baik, buruk, indah, tidak indah. Yang dipikirkan, benar, salah. Baik benar, baik salah,  buruk benar, buruk salah. Tiadalah manusia mampu mensinkronkan kecuali atas pertolongan Tuhan. Tuhan itu yang Maha Menyinkronkan. Manusia hanya berusaha supaya sinkron dengan menggunakan metode hermenitika. Hermenitika adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Yang diterjemahkan adalah semuanya, A dan bukan A. Diterjemahkan artinya diinteraksikan/berinteraksi. Salah satu interaksi adalah tanya jawab di kelas agar kita tahu pikiran kita tidak sesuai. Kita dapat mengetahuinya dari selain diri kita sendiri, dari orang lain, tanaman, binatang. Kamu menyinkronkan diriantara kamu dan bukan dirimu. Jadi belum tentu yang baik itu benar, baik itu salah, benar itu baik, benar itu salah.
12.   Kapan kita menggunakan pikiran, kapan menggunakan perasaan?
Maka sebenar-benar hidup adalah holistik dan komprehensif. Hidup dalam keseluruhan. Diri dalam keseluruhan dan keseluruhan di dalam diri. Supaya sinkron, maka semua harus dikelola lewat spiritualitas, keyakinan dan ibadahnya masing-masing. Pikiran dan perasaan setiap saat berganti-ganti, berinteraksi. Berpikir itu sepersekian puluh detik sudah terus, antara tesis sintesis. Belum lagi hati. Maka sebenar-benar hati harus dalam keadaan bergetar dan getaran hati itu panggilan kepada Tuhan dalam keadaan apapun. Maka semua perkara dibalut dengan getaran hati dalam keadaan memanggil nama Tuhan. Karena ibadah tertinggi adalah ibadah memanggil nama Tuhan karena hanya Tuhanlah yang bisa sama dengan namaNya. Maka tidak ada ciptaan Tuhan yang mampu menyamaiNya. Jika ingin selamat dunia akhirat harus selalu bergetar hatinya dalam keadaan sadar maupun tidak sadar, bekerja maupun tertidur. Sedetik engkau tidak dalam keadaan berdoa, masuklah setan atau potensi negatif. Banyak diantara orang sukses meraih, banyak pula yang gagal mempertahankan karena tidak siap mentalnya.
13.  Kenapa mudah lupa?
Itu sunatullah dan kodratnya. Sebab kalau tidak bisa lupa tidak bisa hidup. Maka sebenar-benar hidup adalah lupa.
14.  Dimana letak perbedaan antara positif dan kontemporer?
Kontemporer adalah kekinian, keadaan zaman sekarang. Tetapi penggeraknya itu postif. Maka positif dan kontemporer tidak bisa dipisah. Jaman now adalah jaman vuca. V, Volatil adalah rentan. U, uncertainty adalah ketidakpastian. Barang siapa ragu-ragu, maka masuklah setan. C, complicated adalah sangat kompleks keadaannya. Zaman yang tidak sederhana lagi. Hidup ini adalah daya ingat, tanpa ada daya ingat kita tidak bisa hidup. Maka sebenar-benar hidup adalah ingat. Orang tidak menyadari intuisi kalau tidak belajar filsafat. Itu yang disebut intuisi dua satu. Bergaul itu penting untuk mempertahankan supaya terjaga daya ingat. Lupa dan ingat ada batasnya. Maka sebenar-benar hidup itu batas. Semua dalam ruang dan waktunya. Memandang itu bergantian, bernapas, berbicara itu juga bergantian. Bergantian itu seri, kodrat. Tapi sembari berbicara, bernapas, mendengar bersama-sama itu paralel. Jadi hidup itu paralel. Maka bergantian ada ruang dan waktunya. Paralel juga ada ruang dan waktunya.





:: Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu IV : Euforia dan Filsafat


Euforia dan Filsafat
Euforia adalah respon berlebih yang memerlukan energi banyak untuk memikirkannya. Respon dari euforia itu bisa riuh rendah, tinggi dan sedang. Tetapi euforia itu tidak selalu dapat dilihat dan didengar. Karena euforia itu bisa di hati dan pikiran. Dalam pandangan filsafat euforia itu tidak hanya respon dari suatu kebahagian tetapi bisa juga respon dari sifat takut atau kesedihan. Karena euforia itu bisa postif atau negatif. Rasa takut juga bisa positif atau negatif. Contoh nya rasa takut karena melakukan dosa itu termasuk rasa takut positif. Jadi dalam filsafat kebenaran umum itu belum tentu benar. Filasafat itu penjelasannya. Bagaiman kita memikirkannya.
Dalam filsafat menjelaskan hidup yaitu sebenar-benar hidup adalah ketertimpaan antarsifat. Kalau tidak ada ketertimpaan tidak bisa hidup. Contohnya bernapas, hidung tertimpa oleh oksigen. Kalau tidak ada peristiwa itu kamu tidak akan hidup. Memandang, pandanganmu sudah menimpa orang lain. Ketika kamu memikirkan orang yang kamu cintai, pikiranmu sudah menimpa dia. Doa juga begitu, kalau kita mendoakan seseorang, doa kita sudah menimpa kepadanya. Itulah sebabnya kita jangan mendoakan yang jelek.
Berfilsafat adalah bagaimana penjelasanmu, seberapa jauh uraianmu itu. Berfilsafat adalah berpikir secara intesif dan ekstensif. Tapi tidak menjelaskan bahwa itu penjelasan. Bukan penjelasan tapi penjelasan. Bagaimana binatang berpikir, tumbuhan mampu berpikir. Kalau tidak mau berpikir, sudah selesai, kamu tidak berfilsafat. Binatang, tumbuhan, batu yang berpikir itu seperti apa. Batu cenderung di bawah, pasir di atas selalu begitu. Batu besar cenderung sulit hanyut. Jadi pikiran para batu adalah kodratnya. Hukum alam itu pikiran para batu. Hukum alam ada sifat, naluriah. Karena suatu hal, keadaan. Keadaan satu menarik keadaan lain. Keadaan menimpa atau keadaan yang ditimpa. Setiap saat kita menimpa atau ditimpa. Maka sebenar-benar hidup adalah sifat.


:: Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu III : Ada, Mengada, dan Pengada


Ada, Mengada, dan Pengada
Objek belajar filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Ciri-ciri ada dalam pikiran itu bisa berbicara. Ada di luar pikiran itu bisa disentuh, dilihat, dirasa, dibau. Untuk memunculkan sesuatu maka kita harus mengadakan. Proses mengadakan adalah belajar. Mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada di dalam pikiran. Kemudian setelah ada dipikiran maka rasakan di dalam hati.
Objek flsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada di pikiranmu. Tapi kalau diekstensikan menjadi yang ada dan yang mungkin ada di hatimu. Cara mengetahui yang ada di pikiran dan hati beda domain. Persoalan filsafat itu hanya ada dua, yaitu memahami apa yang ada di luar pikiran dan menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu menjelaskan pikirannya. Maka sebenar-benarnya kita tidak ada satu orangpun di dunia yang mampu menjelaskan pikirannya sendiri, yang ada hanya berusaha. serta memahami yang di luar pikiran. Bermilyar pangkat bermilyar yang belum anda ketahui itu yang belum anda pikirkan, banyak sekali. Maka sebenar-benar manusia adalah yang mengerti sedikit dan yang mengerti sedikit tidak akan pernah mengerti. Lantas mengapa manusia sombong? Kalau berusaha mengerti banyak hal itu boleh. Tapi kalau mengklaim sudah mengerti banyak hal itu yang menjadi bencana. Mengaku sudah mengerti padahal belum mengerti.
Jika diformalkan, objek filsafat itu objek formal dan material. Orang mempelajari filsafat menggunakan alat, yakni bahasa. Bukan sembarang bahasa, yakni bahasa analog. Analog tidak sekedar sama atau ekivalen. Jadi analog adalah konformitas antara dua dunia. Jadi, dalam filsafat, pikiran itu urusan dunia, hati urusan akhirat. Hati itu doa, spiritualitas, kuasa Tuhan, malaikat, surga. Pikiran itu urusan dunia, memikirkan tentang yang ada di dunia. Langit itu bisa saja hati, kuasa Tuhan. Dengan mendalam-dalamkan dan meluas-luaskan. Sampai sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya sampai tidak ada yang lebih dalam lagi sesuai dengan kedalaman pikiranmu masing-masing.
Objek formal itu bentuk, material itu substansi. Semua di dunia terdiri dari bentuknya dan isinya. Kamu senyum, cemberut, tertawa, tegang, serius, santai, memang bentuknya seperti itu. Tetapi di balik senyuman, tawa, canda, ceria, itu substansinya. Bentuk dan substansi bertingkat-tingkat. Dari jauh bentukmu itu titik, agak dekat lagi garis, lebih dekat lagi garis, dekat lagi gunung,
Wadah selalu punya isi. Tidak ada isi tanpa wadah dan sebaliknya. Ternyata wadah itu isi dan isi itu wadah. Semua itu analog. Wadahnya analog, isinya analog. Contohnya, wadah itu analog dengan rumus. Rumus itu analog metafisik.  Kalau wadahnya itu fatal, isinya vital. Wadah analog dengan takdir, dan isi analog dengan vital, vital itu analog dengan ikhtiar. Takdir itu memilih, ikhtiar itu dipilih. Takdir adalah wadah kita. Isinya adalah ikhtiarmu atau vital. Jadi unsur dasar dunia adalah wadah dan isi. Unsur dasar dunia adalah takdir dan ikhtiar. Takdir itu dipilih berarti sudah, maka takdir itu sudah, yang belum adalah ikhtiar. Ditingkatkan ke spiritualitas maka semua adalah takdir, wadah, kuasa Tuhan. Maka kuasa Tuhan itu wadah utama dan pertama.
Kamu itu siapa? Tidak ada orang yang dapat menunjuk dirinya sendiri. Hanya Tuhan sajalah yg bisa sama dengan dirinya sendiri, sama dengan namaNya. Prinsip hidup adalah aku tidak sama dgn aku.  Prinsip di dunia ini adalah kontradiksi karena aku tidak sama dengan aku. Karena terikat oleh ruang dan waktu. Ruang dan waktu kita berpikir profesional, eksperimen. Bagaimana dunia ini kalau tidak ada ruang hanya waktu saja, dunia akan kiamat. Begitu sebaliknya. Jadi fatal dan vital itu potensi semuanya. Manusia, binatang, tumbuhan bisa tumbuh karena ada potensi fatal dan vital.




:: Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu II : Belajar Filsafat Kehidupan


Belajar Filsafat Kehidupan
Filsafat adalah berpikir. Bagaimana cara berpikir dalam filsafat? Dalam filsafat cara berpikirnya yaitu pikirkan apa yang kamu rasakan dan rasakan apa yang kamu pikirkan. Setelah itu berdoalah. Karena manusia hanya bisa berikhtiar selebihnya tanga Tuhan yang akan bekerja. Jadi berfilsafat adalah bentuk ikhtiar manusia. Bahanya dalam berfilsafat itu ketika seseorang sudah merasa berpikir sampai pada tahap yang jelas kemudian sudah berhenti berpikir. Padahal sebenar-benar filsafat adalah berpikir.
Manusia adalah mahluk yang terbatas kemampuannya. Tidak ada manusia yang tahu dirinya sendiri. Apa yang dilihat dan didengar manusia hanya kualitas pertama. Kualitas berikutnya manusia tidak akan pernah tahu. Tidak ada satupun di dunia ini yang mampu menunjuk dirinya sendiri kecuali Tuhan. Manusia yang sekarang akan berbeda dengan manusia seper sekian detik manusia yang akan datang. Jadi sebelum manusia bisa menunjuk dirinya sendiri, sebenarnya manusia sudah berubah dari yang tadi menjadi sekarang. Manusia tidak akan mencapai keseluruhan. Maka sebenar-benar keseluruhan yang tahu hanya Alloh Yang Maha Esa.
Bagaimana pandangan filsafat tentang menilai spiritualitas diri sendiri? Jika filsafat adalah dirimu, spiritualitas adalah dirimu. Jangan coba-coba menggambarkan spiritualitas dengan dunia. Karena dunia tidak mencukupi. Karena spiritualitas meliputi dunia dan akhirat. Dalam agama Islam urusan dibagi dua, urusan dengan Tuhan dan urusan dengan manusia. Kemudian dibagi tiga. Manusia paling bawah derajatnya memiliki orientasi bangsa mulut, mata, telinga, perut, itu namanya manusia basar. Naik diatasnya manusia yang bisa beribadah mengerti Tuhan itu manusia insan. Tapi kalau manusia basar meningkat menjadi insan itu habluminallah. Manusia yang paling tinggi itu manusia yang habluminallah dan minannas.
Manusia tetaplah mahluk dengan keterbatasannya. Tidak pantas manusia untuk bangga diri dengan segala kemampuan dan capaian yang ia peroleh. Maka dari itu manusia haruslah rendah diri. Lalu bagaimana cara untuk selalu rendah diri? Untuk bisa mencapai rendah hati yang sesungguhnya, yang pertama adalah ikhtiar, kedua berserah diri kepada Allah, minta pertolongan. Karena tidak ada makhluk di dunia yang mampu mengusir setan kecuali Tuhan. Dan sedikitpun keraguanmu di dalam hati engkau tidak bisa menghilangkan kecuali atas kuasa Tuhan. Maka karena godaan setan terus menerus, kita harus valid dan kontinu. Sebenar-benar manusia haruslah dalam keadaan berdoa. Setiap awal menyebut atau mengingat Tuhan, di tengah istiqomah, akhiran mudah-mudahan khusnul khotimah (mengakhiri dengan baik). Esensi mengakhiri dengan baik adalah rasa syukur. Dalam filsafat akhiran adalah awalan. Rasa syukur boleh di akhir atau di depan.


Minggu, 28 Oktober 2018

:: Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu I : Filsafat : Apa dan Bagaimana?


Filsafat : Apa dan Bagaimana?
Filsafat adalah ilmu mengenai olah pikir. Dalam filsafat objek pikirnya yaitu ada dan yang mungkin ada. Belajar filsafat pada Pak Marsigit adalah pelajari pikiran dan hidup Pak Marsigit.  Dari filosofi turun menjadi ideologi, ideologi turun menjadi paradigma, paradigma turun menjadi teori, teori turun menjadi model, model turun menjadi sintak, sintak turun menjadi contoh. Segala ilmu ada dua hal yaitu yang disebut objek material dan objek formal. Objek material itu isinya sedangkan objek formal itu metodenya. Seseorang yang melihat itu ada dua hal yaitu apa yang dilihat dan bagaimana cara melihat. Artinya semuanya baik ilmu, ibadah, rumah tangga, dan segalanya pasti seperti itu. Mendengar juga demikian yaitu apa yang didengar dan bagaimana cara mendengar. Tidur sekalipun juga demikian. Karena sebenar-benar filsafat itu berpikir.
Penjelasan mengenai kedudukan tingkat-tingkatan dalam berfilsafat. Paling tinggi adalah spiritual. Objek formal itu tata cara, adab. Dimanapun kita berada harus beradab. Tidak hanya manusia yang menggunakan tata cara, namun bisa hewan, tumbuh-tumbuhan, gunung meletus dan semua yang ada di dunia ini menggunakan tata cara. Tata cara itu ada yang dibuat manusia dan ada yang sudah takdirnya. Jadi dalam berfilsafat jangan salah paham. Sebelum berfilsafat maka kuatkan agamanya. Dengan meningkatkan ibadahnya, doanya. Jangan sampai dengan berfilsafat menjadi salah arah. Karena pada akhirnya nanti filsafat itu akan kembali kepada diri kita masing-masing.
Turun ke bawah filsafatnya yaitu bagaimana filsafat berfilsafat. Filsafatnya berfilsafat yaitu sifatnya orang berfilsafat. Sifatnya berusaha memahami. Filsafat itu olah pikir. Filsafat itu satu grade di bawah spiritual tetapi tidak pernah menjangkau spiritual. Karena filsafat dan spiritual itu beda domain. Domain filsafat itu pikiran dan domain spiritual adalah hati dan yang lainnya. Filsafat itu lebih lembut dari benda yang paling lembut. Karena filsafat itu mengisi ruang tanpa mengisi. Karena apa yang diisi sebenarnya sudah terisi. Yang bisa mengalahkan kelembutan filsafat adalah kelembutan hati atau spiritual. Wujud dari spiritual adalah cahaya.
Sebagai contoh yaitu menemukan filsafat dalam Ketoprak yang diselenggarakan saat Diesnatalis UNY. Berikut adalah penjelasan filsafat dari Ketorprak.
Ketoprak tersebut diadakan dalam acara diesnatalis UNY. Ketoprak yang diperankan oleh para guru besar. Arti dari ketoprak itu seperti saat ditusuk tidak mempan. Dalam ketoprak itu baru apa yang dilihat adalah kualitas 1 yaitu yang kelihatan, dan yang didengarkan. Kualitas yang kedua adalah metafisik artinya dibalik yang dilihat dan didengar. Dalam filsafat itu tidak hanya yang terlihat dan didengar saja tetapi metafisik. Kualitas berikutnya adalah kualitas semua dikurangi kualitas yang terlihat dan didengar. Seperti pikiran, perasaan, dan lainnya. Jadi manusia itu hanya sedikit mengerti. Ditusuk secara harfiah sakit, bisa mati. Namun secara metafisik, dapat diberi maksud. Misalnya ditusuk itu adalah godaan. Hidup ini full of godaan. Godaan marah, godaan menipu, suap, korupsi, menyiarkan hoax, dan seterusnya. Dari mulai godaan penglihatan, perasaan, pemikiran dan lainnya. Dalam ketoprak itu, pangeran Purboyo ditusuk dengan gratifiksai dan yang lain tidak mempan. Jika ditusuk mempan maka habis sudah Pangeran Purboyo menjadi raja karena telah tergoda.
Berperang dengan Tumenggung itu artinya Pangeran Purboyo keluar dari kegelapan atau keburukan. Maka dari itu untuk keluar dari kegelapan adalah dengan mencari ilmu. Setelah berhasil menangkap, mengerahkan prajurit untuk melawan. Artinya pada jaman sekarang tidak bisa mengatasi masalah sendirian, perlu adanya tim untuk mengatasi masalah. Karena masalah pada jaman sekarang sangat kompleks. Dengan adanya tim dengan berbagai keahlian masing-masing yang dapat memecahkan masalah dengan optimal,.Untuk menangkap penjahat atau kegelapan adalah diikat dengan ilmu. Ilmu itu tidak fakir. Tidak berilmu itu fakir. Fakir cenderung miskin. Orang yang tidak berilmu itu cenderung miskin. Orang yang miskin cenderung tidak berilmu. Makanya mencari ilmu agar tidak fakir dan diharapkan tidak miskin. Miskin dalam filsafat itu semuanya. Miskin ilmu, miskin silahturahmi, dan semuanya. Maka ilmu itu penting untuk mengikat kebodohan.
Jadi berfilsafat itu bisa dari apa saja yang bisa dipikir, dirasakan, dan didengar. Contohnya ketoprak sangat bisa sebagai objek filsafat. Jangankan ketoprak, semut yang sedang bercengkrama saja bisa menjadi objek filsafat.dalam berfilsafat harus bisa berangkat dari hal yang sepele. Dalam berfilsafat itu dari sesuatu yang jelas menjadi tidak jelas.