Euforia
dan Filsafat
Euforia adalah respon
berlebih yang memerlukan energi banyak untuk memikirkannya. Respon dari euforia
itu bisa riuh rendah, tinggi dan sedang. Tetapi euforia itu tidak selalu dapat
dilihat dan didengar. Karena euforia itu bisa di hati dan pikiran. Dalam
pandangan filsafat euforia itu tidak hanya respon dari suatu kebahagian tetapi
bisa juga respon dari sifat takut atau kesedihan. Karena euforia itu bisa
postif atau negatif. Rasa takut juga bisa positif atau negatif. Contoh nya rasa
takut karena melakukan dosa itu termasuk rasa takut positif. Jadi dalam
filsafat kebenaran umum itu belum tentu benar. Filasafat itu penjelasannya.
Bagaiman kita memikirkannya.
Dalam filsafat
menjelaskan hidup yaitu sebenar-benar hidup adalah ketertimpaan antarsifat.
Kalau tidak ada ketertimpaan tidak bisa hidup. Contohnya bernapas, hidung
tertimpa oleh oksigen. Kalau tidak ada peristiwa itu kamu tidak akan hidup.
Memandang, pandanganmu sudah menimpa orang lain. Ketika kamu memikirkan orang
yang kamu cintai, pikiranmu sudah menimpa dia. Doa juga begitu, kalau kita
mendoakan seseorang, doa kita sudah menimpa kepadanya. Itulah sebabnya kita
jangan mendoakan yang jelek.
Berfilsafat adalah
bagaimana penjelasanmu, seberapa jauh uraianmu itu. Berfilsafat adalah berpikir
secara intesif dan ekstensif. Tapi tidak menjelaskan bahwa itu penjelasan.
Bukan penjelasan tapi penjelasan. Bagaimana binatang berpikir, tumbuhan mampu
berpikir. Kalau tidak mau berpikir, sudah selesai, kamu tidak berfilsafat. Binatang,
tumbuhan, batu yang berpikir itu seperti apa. Batu cenderung di bawah, pasir di
atas selalu begitu. Batu besar cenderung sulit hanyut. Jadi pikiran para batu
adalah kodratnya. Hukum alam itu pikiran para batu. Hukum alam ada sifat,
naluriah. Karena suatu hal, keadaan. Keadaan satu menarik keadaan lain. Keadaan
menimpa atau keadaan yang ditimpa. Setiap saat kita menimpa atau ditimpa. Maka sebenar-benar
hidup adalah sifat.
0 komentar:
Posting Komentar