Ada,
Mengada, dan Pengada
Objek belajar filsafat
adalah yang ada dan yang mungkin ada. Ciri-ciri ada dalam pikiran itu bisa
berbicara. Ada di luar pikiran itu bisa disentuh, dilihat, dirasa, dibau. Untuk
memunculkan sesuatu maka kita harus mengadakan. Proses mengadakan adalah
belajar. Mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada di dalam pikiran.
Kemudian setelah ada dipikiran maka rasakan di dalam hati.
Objek flsafat meliputi
yang ada dan yang mungkin ada di pikiranmu. Tapi kalau diekstensikan menjadi
yang ada dan yang mungkin ada di hatimu. Cara mengetahui yang ada di pikiran
dan hati beda domain. Persoalan filsafat itu hanya ada dua, yaitu memahami apa
yang ada di luar pikiran dan menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran. Tidak
ada seorang pun di dunia ini yang mampu menjelaskan pikirannya. Maka
sebenar-benarnya kita tidak ada satu orangpun di dunia yang mampu menjelaskan
pikirannya sendiri, yang ada hanya berusaha. serta memahami yang di luar pikiran.
Bermilyar pangkat bermilyar yang belum anda ketahui itu yang belum anda
pikirkan, banyak sekali. Maka sebenar-benar manusia adalah yang mengerti
sedikit dan yang mengerti sedikit tidak akan pernah mengerti. Lantas mengapa
manusia sombong? Kalau berusaha mengerti banyak hal itu boleh. Tapi kalau
mengklaim sudah mengerti banyak hal itu yang menjadi bencana. Mengaku sudah
mengerti padahal belum mengerti.
Jika diformalkan, objek
filsafat itu objek formal dan material. Orang mempelajari filsafat menggunakan
alat, yakni bahasa. Bukan sembarang bahasa, yakni bahasa analog. Analog tidak
sekedar sama atau ekivalen. Jadi analog adalah konformitas antara dua dunia.
Jadi, dalam filsafat, pikiran itu urusan dunia, hati urusan akhirat. Hati itu
doa, spiritualitas, kuasa Tuhan, malaikat, surga. Pikiran itu urusan dunia,
memikirkan tentang yang ada di dunia. Langit itu bisa saja hati, kuasa Tuhan.
Dengan mendalam-dalamkan dan meluas-luaskan. Sampai sedalam-dalamnya dan
seluas-luasnya sampai tidak ada yang lebih dalam lagi sesuai dengan kedalaman
pikiranmu masing-masing.
Objek formal itu
bentuk, material itu substansi. Semua di dunia terdiri dari bentuknya dan
isinya. Kamu senyum, cemberut, tertawa, tegang, serius, santai, memang
bentuknya seperti itu. Tetapi di balik senyuman, tawa, canda, ceria, itu
substansinya. Bentuk dan substansi bertingkat-tingkat. Dari jauh bentukmu itu
titik, agak dekat lagi garis, lebih dekat lagi garis, dekat lagi gunung,
Wadah selalu punya isi.
Tidak ada isi tanpa wadah dan sebaliknya. Ternyata wadah itu isi dan isi itu
wadah. Semua itu analog. Wadahnya analog, isinya analog. Contohnya, wadah itu
analog dengan rumus. Rumus itu analog metafisik. Kalau wadahnya itu fatal, isinya vital. Wadah
analog dengan takdir, dan isi analog dengan vital, vital itu analog dengan
ikhtiar. Takdir itu memilih, ikhtiar itu dipilih. Takdir adalah wadah kita.
Isinya adalah ikhtiarmu atau vital. Jadi unsur dasar dunia adalah wadah dan
isi. Unsur dasar dunia adalah takdir dan ikhtiar. Takdir itu dipilih berarti sudah,
maka takdir itu sudah, yang belum adalah ikhtiar. Ditingkatkan ke spiritualitas
maka semua adalah takdir, wadah, kuasa Tuhan. Maka kuasa Tuhan itu wadah utama
dan pertama.
Kamu itu siapa? Tidak
ada orang yang dapat menunjuk dirinya sendiri. Hanya Tuhan sajalah yg bisa sama
dengan dirinya sendiri, sama dengan namaNya. Prinsip hidup adalah aku tidak
sama dgn aku. Prinsip di dunia ini
adalah kontradiksi karena aku tidak sama dengan aku. Karena terikat oleh ruang
dan waktu. Ruang dan waktu kita berpikir profesional, eksperimen. Bagaimana
dunia ini kalau tidak ada ruang hanya waktu saja, dunia akan kiamat. Begitu
sebaliknya. Jadi fatal dan vital itu potensi semuanya. Manusia, binatang,
tumbuhan bisa tumbuh karena ada potensi fatal dan vital.
0 komentar:
Posting Komentar