Senin, 29 Oktober 2018

:: Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu III : Ada, Mengada, dan Pengada


Ada, Mengada, dan Pengada
Objek belajar filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Ciri-ciri ada dalam pikiran itu bisa berbicara. Ada di luar pikiran itu bisa disentuh, dilihat, dirasa, dibau. Untuk memunculkan sesuatu maka kita harus mengadakan. Proses mengadakan adalah belajar. Mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada di dalam pikiran. Kemudian setelah ada dipikiran maka rasakan di dalam hati.
Objek flsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada di pikiranmu. Tapi kalau diekstensikan menjadi yang ada dan yang mungkin ada di hatimu. Cara mengetahui yang ada di pikiran dan hati beda domain. Persoalan filsafat itu hanya ada dua, yaitu memahami apa yang ada di luar pikiran dan menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu menjelaskan pikirannya. Maka sebenar-benarnya kita tidak ada satu orangpun di dunia yang mampu menjelaskan pikirannya sendiri, yang ada hanya berusaha. serta memahami yang di luar pikiran. Bermilyar pangkat bermilyar yang belum anda ketahui itu yang belum anda pikirkan, banyak sekali. Maka sebenar-benar manusia adalah yang mengerti sedikit dan yang mengerti sedikit tidak akan pernah mengerti. Lantas mengapa manusia sombong? Kalau berusaha mengerti banyak hal itu boleh. Tapi kalau mengklaim sudah mengerti banyak hal itu yang menjadi bencana. Mengaku sudah mengerti padahal belum mengerti.
Jika diformalkan, objek filsafat itu objek formal dan material. Orang mempelajari filsafat menggunakan alat, yakni bahasa. Bukan sembarang bahasa, yakni bahasa analog. Analog tidak sekedar sama atau ekivalen. Jadi analog adalah konformitas antara dua dunia. Jadi, dalam filsafat, pikiran itu urusan dunia, hati urusan akhirat. Hati itu doa, spiritualitas, kuasa Tuhan, malaikat, surga. Pikiran itu urusan dunia, memikirkan tentang yang ada di dunia. Langit itu bisa saja hati, kuasa Tuhan. Dengan mendalam-dalamkan dan meluas-luaskan. Sampai sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya sampai tidak ada yang lebih dalam lagi sesuai dengan kedalaman pikiranmu masing-masing.
Objek formal itu bentuk, material itu substansi. Semua di dunia terdiri dari bentuknya dan isinya. Kamu senyum, cemberut, tertawa, tegang, serius, santai, memang bentuknya seperti itu. Tetapi di balik senyuman, tawa, canda, ceria, itu substansinya. Bentuk dan substansi bertingkat-tingkat. Dari jauh bentukmu itu titik, agak dekat lagi garis, lebih dekat lagi garis, dekat lagi gunung,
Wadah selalu punya isi. Tidak ada isi tanpa wadah dan sebaliknya. Ternyata wadah itu isi dan isi itu wadah. Semua itu analog. Wadahnya analog, isinya analog. Contohnya, wadah itu analog dengan rumus. Rumus itu analog metafisik.  Kalau wadahnya itu fatal, isinya vital. Wadah analog dengan takdir, dan isi analog dengan vital, vital itu analog dengan ikhtiar. Takdir itu memilih, ikhtiar itu dipilih. Takdir adalah wadah kita. Isinya adalah ikhtiarmu atau vital. Jadi unsur dasar dunia adalah wadah dan isi. Unsur dasar dunia adalah takdir dan ikhtiar. Takdir itu dipilih berarti sudah, maka takdir itu sudah, yang belum adalah ikhtiar. Ditingkatkan ke spiritualitas maka semua adalah takdir, wadah, kuasa Tuhan. Maka kuasa Tuhan itu wadah utama dan pertama.
Kamu itu siapa? Tidak ada orang yang dapat menunjuk dirinya sendiri. Hanya Tuhan sajalah yg bisa sama dengan dirinya sendiri, sama dengan namaNya. Prinsip hidup adalah aku tidak sama dgn aku.  Prinsip di dunia ini adalah kontradiksi karena aku tidak sama dengan aku. Karena terikat oleh ruang dan waktu. Ruang dan waktu kita berpikir profesional, eksperimen. Bagaimana dunia ini kalau tidak ada ruang hanya waktu saja, dunia akan kiamat. Begitu sebaliknya. Jadi fatal dan vital itu potensi semuanya. Manusia, binatang, tumbuhan bisa tumbuh karena ada potensi fatal dan vital.




0 komentar:

Posting Komentar