Senin, 29 Oktober 2018

:: Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu II : Belajar Filsafat Kehidupan


Belajar Filsafat Kehidupan
Filsafat adalah berpikir. Bagaimana cara berpikir dalam filsafat? Dalam filsafat cara berpikirnya yaitu pikirkan apa yang kamu rasakan dan rasakan apa yang kamu pikirkan. Setelah itu berdoalah. Karena manusia hanya bisa berikhtiar selebihnya tanga Tuhan yang akan bekerja. Jadi berfilsafat adalah bentuk ikhtiar manusia. Bahanya dalam berfilsafat itu ketika seseorang sudah merasa berpikir sampai pada tahap yang jelas kemudian sudah berhenti berpikir. Padahal sebenar-benar filsafat adalah berpikir.
Manusia adalah mahluk yang terbatas kemampuannya. Tidak ada manusia yang tahu dirinya sendiri. Apa yang dilihat dan didengar manusia hanya kualitas pertama. Kualitas berikutnya manusia tidak akan pernah tahu. Tidak ada satupun di dunia ini yang mampu menunjuk dirinya sendiri kecuali Tuhan. Manusia yang sekarang akan berbeda dengan manusia seper sekian detik manusia yang akan datang. Jadi sebelum manusia bisa menunjuk dirinya sendiri, sebenarnya manusia sudah berubah dari yang tadi menjadi sekarang. Manusia tidak akan mencapai keseluruhan. Maka sebenar-benar keseluruhan yang tahu hanya Alloh Yang Maha Esa.
Bagaimana pandangan filsafat tentang menilai spiritualitas diri sendiri? Jika filsafat adalah dirimu, spiritualitas adalah dirimu. Jangan coba-coba menggambarkan spiritualitas dengan dunia. Karena dunia tidak mencukupi. Karena spiritualitas meliputi dunia dan akhirat. Dalam agama Islam urusan dibagi dua, urusan dengan Tuhan dan urusan dengan manusia. Kemudian dibagi tiga. Manusia paling bawah derajatnya memiliki orientasi bangsa mulut, mata, telinga, perut, itu namanya manusia basar. Naik diatasnya manusia yang bisa beribadah mengerti Tuhan itu manusia insan. Tapi kalau manusia basar meningkat menjadi insan itu habluminallah. Manusia yang paling tinggi itu manusia yang habluminallah dan minannas.
Manusia tetaplah mahluk dengan keterbatasannya. Tidak pantas manusia untuk bangga diri dengan segala kemampuan dan capaian yang ia peroleh. Maka dari itu manusia haruslah rendah diri. Lalu bagaimana cara untuk selalu rendah diri? Untuk bisa mencapai rendah hati yang sesungguhnya, yang pertama adalah ikhtiar, kedua berserah diri kepada Allah, minta pertolongan. Karena tidak ada makhluk di dunia yang mampu mengusir setan kecuali Tuhan. Dan sedikitpun keraguanmu di dalam hati engkau tidak bisa menghilangkan kecuali atas kuasa Tuhan. Maka karena godaan setan terus menerus, kita harus valid dan kontinu. Sebenar-benar manusia haruslah dalam keadaan berdoa. Setiap awal menyebut atau mengingat Tuhan, di tengah istiqomah, akhiran mudah-mudahan khusnul khotimah (mengakhiri dengan baik). Esensi mengakhiri dengan baik adalah rasa syukur. Dalam filsafat akhiran adalah awalan. Rasa syukur boleh di akhir atau di depan.


0 komentar:

Posting Komentar