Minggu, 28 Oktober 2018

:: Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu I : Filsafat : Apa dan Bagaimana?


Filsafat : Apa dan Bagaimana?
Filsafat adalah ilmu mengenai olah pikir. Dalam filsafat objek pikirnya yaitu ada dan yang mungkin ada. Belajar filsafat pada Pak Marsigit adalah pelajari pikiran dan hidup Pak Marsigit.  Dari filosofi turun menjadi ideologi, ideologi turun menjadi paradigma, paradigma turun menjadi teori, teori turun menjadi model, model turun menjadi sintak, sintak turun menjadi contoh. Segala ilmu ada dua hal yaitu yang disebut objek material dan objek formal. Objek material itu isinya sedangkan objek formal itu metodenya. Seseorang yang melihat itu ada dua hal yaitu apa yang dilihat dan bagaimana cara melihat. Artinya semuanya baik ilmu, ibadah, rumah tangga, dan segalanya pasti seperti itu. Mendengar juga demikian yaitu apa yang didengar dan bagaimana cara mendengar. Tidur sekalipun juga demikian. Karena sebenar-benar filsafat itu berpikir.
Penjelasan mengenai kedudukan tingkat-tingkatan dalam berfilsafat. Paling tinggi adalah spiritual. Objek formal itu tata cara, adab. Dimanapun kita berada harus beradab. Tidak hanya manusia yang menggunakan tata cara, namun bisa hewan, tumbuh-tumbuhan, gunung meletus dan semua yang ada di dunia ini menggunakan tata cara. Tata cara itu ada yang dibuat manusia dan ada yang sudah takdirnya. Jadi dalam berfilsafat jangan salah paham. Sebelum berfilsafat maka kuatkan agamanya. Dengan meningkatkan ibadahnya, doanya. Jangan sampai dengan berfilsafat menjadi salah arah. Karena pada akhirnya nanti filsafat itu akan kembali kepada diri kita masing-masing.
Turun ke bawah filsafatnya yaitu bagaimana filsafat berfilsafat. Filsafatnya berfilsafat yaitu sifatnya orang berfilsafat. Sifatnya berusaha memahami. Filsafat itu olah pikir. Filsafat itu satu grade di bawah spiritual tetapi tidak pernah menjangkau spiritual. Karena filsafat dan spiritual itu beda domain. Domain filsafat itu pikiran dan domain spiritual adalah hati dan yang lainnya. Filsafat itu lebih lembut dari benda yang paling lembut. Karena filsafat itu mengisi ruang tanpa mengisi. Karena apa yang diisi sebenarnya sudah terisi. Yang bisa mengalahkan kelembutan filsafat adalah kelembutan hati atau spiritual. Wujud dari spiritual adalah cahaya.
Sebagai contoh yaitu menemukan filsafat dalam Ketoprak yang diselenggarakan saat Diesnatalis UNY. Berikut adalah penjelasan filsafat dari Ketorprak.
Ketoprak tersebut diadakan dalam acara diesnatalis UNY. Ketoprak yang diperankan oleh para guru besar. Arti dari ketoprak itu seperti saat ditusuk tidak mempan. Dalam ketoprak itu baru apa yang dilihat adalah kualitas 1 yaitu yang kelihatan, dan yang didengarkan. Kualitas yang kedua adalah metafisik artinya dibalik yang dilihat dan didengar. Dalam filsafat itu tidak hanya yang terlihat dan didengar saja tetapi metafisik. Kualitas berikutnya adalah kualitas semua dikurangi kualitas yang terlihat dan didengar. Seperti pikiran, perasaan, dan lainnya. Jadi manusia itu hanya sedikit mengerti. Ditusuk secara harfiah sakit, bisa mati. Namun secara metafisik, dapat diberi maksud. Misalnya ditusuk itu adalah godaan. Hidup ini full of godaan. Godaan marah, godaan menipu, suap, korupsi, menyiarkan hoax, dan seterusnya. Dari mulai godaan penglihatan, perasaan, pemikiran dan lainnya. Dalam ketoprak itu, pangeran Purboyo ditusuk dengan gratifiksai dan yang lain tidak mempan. Jika ditusuk mempan maka habis sudah Pangeran Purboyo menjadi raja karena telah tergoda.
Berperang dengan Tumenggung itu artinya Pangeran Purboyo keluar dari kegelapan atau keburukan. Maka dari itu untuk keluar dari kegelapan adalah dengan mencari ilmu. Setelah berhasil menangkap, mengerahkan prajurit untuk melawan. Artinya pada jaman sekarang tidak bisa mengatasi masalah sendirian, perlu adanya tim untuk mengatasi masalah. Karena masalah pada jaman sekarang sangat kompleks. Dengan adanya tim dengan berbagai keahlian masing-masing yang dapat memecahkan masalah dengan optimal,.Untuk menangkap penjahat atau kegelapan adalah diikat dengan ilmu. Ilmu itu tidak fakir. Tidak berilmu itu fakir. Fakir cenderung miskin. Orang yang tidak berilmu itu cenderung miskin. Orang yang miskin cenderung tidak berilmu. Makanya mencari ilmu agar tidak fakir dan diharapkan tidak miskin. Miskin dalam filsafat itu semuanya. Miskin ilmu, miskin silahturahmi, dan semuanya. Maka ilmu itu penting untuk mengikat kebodohan.
Jadi berfilsafat itu bisa dari apa saja yang bisa dipikir, dirasakan, dan didengar. Contohnya ketoprak sangat bisa sebagai objek filsafat. Jangankan ketoprak, semut yang sedang bercengkrama saja bisa menjadi objek filsafat.dalam berfilsafat harus bisa berangkat dari hal yang sepele. Dalam berfilsafat itu dari sesuatu yang jelas menjadi tidak jelas.



0 komentar:

Posting Komentar